Skip to content
February 11, 2011 / leonard boby

Bermain-main dengan Masakan

Bila melihat judul diatas mungkin konotasinya seakan-akan mempermainkan masakan, secara asal-asalan mencampur-campurkan bahan makanan yang kemudian hasil akhirnya tidak karuan dan hanya berakhir di tempat sampah. Memang, walaupun kecil, tetap ada kemungkinan menghasilkan masakan yang rasanya enak dengan cara seperti itu, tetapi bukan bermain-main seperti itu yang ingin saya bagi disini, melainkan mencoba membuat suatu kreasi masakan yang kemudian bisa dinikmati, atau minimal tidak berakhir terbuang.

Dalam membuat kreasi masakan, biasanya saya pelajari dahulu bagaimana cara memasak suatu jenis masakan dari resep-resep yang bisa didapatkan di internet, saya coba, lalu di kesempatan lain berimprovisasi dengan bekal pengetahuan percobaan sebelumnya. Biasanya saya melakukannya berulang-ulang hingga menemukan kreasi yang menurut saya benar-benar pas.

Sebagai contoh ketika lumayan sukses membuat roast chicken, saya kemudian bertanya-tanya “Kira-kira diapain lagi yah?, hmmm…gimana yah kalo pake ayam tanpa tulang?, kalo dikasih keju enak nih kayaknya”. Dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya membulatkan tekad untuk mencobanya.

Bahan-bahan yang saya gunakan:

1. Satu potong dada ayam tanpa tulang (dibelah dua).

2. Dua lembar bacon. (*bagi yang tidak mengkonsumsi daging babi, bisa diganti dengan daging sapi asap, atau dengan bahan lain sesuai kreasi anda sendiri)

3. Keju Parmesan secukupnya (kira-kira dua sendok makan).

4. Kentang siomay kurang lebih 10 butir (dikupas).

5. Daun Rocket.

Bumbu-bumbu yang saya pakai: Garam, Lada hitam, minyak zaitun (olive oil), balsamic vinegar, salted butter,  satu buah bawang putih (dicacah halus), 3 buah bawang merah tanpa dikupas, setengah buah lemon satu lembar daun salam, dua tangkai daun rosemary.

Peralatan yang saya gunakan yaitu oven, baking tray , pisau dapur, penjepit makanan, talenan, sendok makan, sendok teh.

Mula-mula saya panaskan oven, suhunya saya atur pada temperatur yang paling tinggi. Kentang ditaruh dalam baking tray, saya berikan olive oil (kira-kira dua sendok makan), lalu garam dan lada hitam secukupnya. Kemudian saya taburkan bawang putih yang telah dicacah, satu sendok makan balsamic vinegar, lalu saya aduk sampai seluruh permukaan kentang terselimuti dengan bumbu-bumbu tadi. Saya letakan daun salam, daun rosemary, dan bawang merah diatas kentang yang sudah terlapisi bumbu, kemudian saya panggang di oven selama 7 menit.

Selagi memanggang kentang, saya mempersiapkan daging ayam. Dada ayam saya potong memanjang tepat di tengah, lalu masing-masing saya beri garam dan lada hitam secukupnya pada seluruh permukaan dada ayam. Kemudian saya letakkan masing-masing dada ayam yang sudah diberi bumbu diatas selembar bacon, dan pada sisi paling atas dada ayam saya taburi keju parmesan lalu digulung. Untuk menjaga posisi daging ayam dan bacon ini agar tetap tergulung, saya gunakan tusuk gigi.

Setelah 7 menit, saya keluarkan kentang dari oven lalu saya letakkan ayam diatas kentang, saya masukkan 2 sendok makan butter ke dalam baking tray, kemudian saya guyur ayam dengan balsamic vinegar (masing-masing ayam satu sendok makan), lalu dipanggang kembali selama 30 menit.

Ayam yang sudah matang, saya angkat dari baking tray dan saya diamkan di suhu ruangan selama 10 menit. Kemudian saya atur daun rocket segar diatas piring dan saya beri satu sendok makan olive oil, satu sendok teh balsamic vinegar, kurang lebih 5 tetes jus lemon, garam dan lada hitam secukupnya. Lalu saya sajikan bersama ayam dan kentang. Minyak yang tersisa pada baking tray saya gunakan sebagai saus, karena minyak tersebut mengandung konsentrasi rasa dari semua bahan dan bumbu.

Hasilnya diluar dugaan saya, daging ayam matang merata, empuk dan juicy, dengan keju parmesan yang meleleh di dalam gulungan ayam, “Waaaah..ternyata lumayan berhasil!”. Bagi saya, apapun hasilnya, membuat kreasi masakan sendiri itu sangat menyenangkan, intinya adalah gunakan imajinasi dan keberanian untuk mencoba. Saya saja bisa…apalagi anda? 😉

Ayo, mari kita bermain-main dengan masakan..

Cheers!

Advertisements
February 8, 2011 / leonard boby

The World’s Greatest Chefs

Kata ‘chefdalam kamus Wikipedia berasal dari istilah dalam bahasa Perancis chef de cuisine yang berarti kitchen director atau org yang mengepalai dapur. Seorang chef mengatur segala sesuatu yang terjadi di dapur. Dari penentuan menu, kreasi masakan, pemilihan bahan-bahan, persiapan memasak, hingga hasil akhir masakan dengan standart yang tinggi.

Biasanya chef mempunyai beberapa orang anak buah, yang ditempatkan di station-station khusus sesuai dengan keahlian masing-masing, ada station yang khusus menangani daging, khusus menangani ikan, khusus membuat makanan penutup (dessert), khusus membuat saus, dan sebagainya. Semua keahlian spesifik yang masing-masing dimiliki oleh anak buahnya harus bisa dilakukan oleh seorang chef, dan tentunya lebih baik.

Seperti halnya seorang Conductor pada sebuah orkestra, chef mengorganisir dan memadukan semua keahlian anak buahnya menjadi suatu komposisi masakan yang bercita rasa tinggi. Dalam seni kuliner -yang acuannya dunia barat- ini adalah tingkatan tertinggi yang bisa diraih seseorang. Menurut saya untuk menjadi seorang chef tidak hanya dibutuhkan kerja keras, tapi yang terpenting disini adalah cinta dan dedikasi tinggi akan seni kuliner, mungkin itu kenapa tidak banyak orang mencapai tahap ini.

Melihat sekilas pada definisi dan tugas-tugas chef, mengingatkan saya pada chef-chef hebat yang kita kenal dekat, yaitu…para ibu kita.
Dalam hal mengelola dapur, menurut saya seorang ibu memiliki semua atribut yang dimiliki oleh chef kelas atas. Dari kemampuan berbelanja memilih bahan-bahan makanan terbaik dengan budget relatif terbatas, pengaturan menu yang baik, sampai terhidangnya makanan untuk seluruh anggota keluarganya. Semua hal tersebut dilakukan para ibu dengan penuh cinta, pengorbanan, dan terlebih lagi..tanpa pamrih.

Berbeda dengan chef profesional, tidak ada hari libur untuk para ibu. Di keluarganya masing-masing, mereka melakukan semua yang dilakukan chef, 365 hari tiap tahunnya. Dalam hal standart, setiap ibu yang memasak menetapkan standart bagaimana makanan semestinya ‘berasa’ di palet lidah kita, dan kemudian terekam oleh otak kita masing-masing. Standart ini memang berbeda-beda di tiap orang, tetapi standart inilah yang terus melekat pada diri kita.

Saya ingat suatu hari mama datang ke Jakarta, saya minta mama saya untuk menuliskan resep macaroni schotel yang biasa ia buat, karena menurut saya..belum ada yang bisa menandingi macaroni schotel buatannya. Lalu beliau menuliskanlah resepnya. Ketika mama pulang ke Purwokerto, saya mencoba membuat si macaroni schotel juara ini. Dan hasilnya “Wah! boleh juga nih!”, bahkan beberapa teman yang mencoba juga mengakui bahwa macaroni buatan saya enak. Saya sempet berbesar hati…”Hahaha akhirnya bisa nandingin macaroni schotel mama!”.

Beberapa waktu kemudian giliran saya pulang ke Purwokerto, dan saya minta mama membuatkan macaroni schotel. Saya langsung menyantapnya ketika masih hangat, suapan pertama tetap saja membuat saya tercengang..karena tadinya saya pikir macaroni yang saya buat sudah bisa menyamai rasanya, tapi kok ternyata masih jauh..tidak mendekati sama sekali! Padahal saya sudah mengikuti semua takaran, semua bahan, semua cara yang mama tulis tapi kenapa rasanya gak bisa seenak itu? Apa yah penyebabnya?

Hmmm…ini mesti karena jam terbang, mama sudah berulang kali bikin macaroni schotel sementara saya baru pertama kali. Lagian, beliau memang ‘chef” di dapur keluarga, hasil masakannya selalu memuaskan (paling tidak menurut saya) jadi ya memang wajar kalo masakan buatannya lebih enak dari buatan saya. Tapi kan semua job desc chef tersebut dia lakukan sendiri tanpa anak buah yang mendampingi, ditambah lagi dilakukannya di sela-sela mencuci baju, membersihkan rumah, mengantar anak-anaknya ke sekolah, belanja ke pasar, dan seterusnya..dan seterusnya.

Pertanyaan kembali mengisi benak saya, “kok bisa yah mama melakukan semua itu?”, “kekuatan super dari mana yah bisa kayak gitu?”. Yang saya tau jelas, mama melakukan semua itu didasari cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, mungkin memang itu sumber kekuatan mama. Saya kembali termenung, sungguh luar biasa menjadi seorang ibu, tugas-tugas berat chef dilakukan simultan dengan pekerjaan rumah tangga lainnya yang sama atau bahkan lebih berat. Bagi saya, dan saya yakin banyak orang yang sependapat, para ibu adalah The World’s Greatest Chefs.

Love you mom

February 7, 2011 / leonard boby

Roast Chicken

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya tentang ‘Roast Chicken” atau ayam panggang.

Keinginan saya untuk membuat ‘Roast Chicken‘ muncul ketika saya bersama teman kantor makan siang di sebuah restaurant bernama ‘Ya Udah Bistro’ (YUB) yang terletak di jl.Johar, Jakarta Pusat. Kala itu kami memesan ayam panggang yang harus dipesan satu jam sebelumnya, karena itu adalah waktu yang dibutuhkan untuk memanggang satu ekor ayam utuh. Jadi dengan cara tersebut kesegaran hidangan ini terjaga, dan menurut saya memang tertampil di rasanya. Roast Chicken YUB ini dagingnya sangat empuk, juicy, sementara kulitnya kering, dan bumbunya meresap sampai ke bagian dalam.

Sambil menyantap ayam panggang yg nikmat ini, muncul pertanyaan-pertanyaan di benak saya – yang memang selalu muncul ketika saya menyantap hidangan-hidangan yang enak – “Bagaimana cara membuat hidangan seperti ini? Bahan-bahannya apa saja? Apakah saya bisa membuatnya?”.

Dari rasa ingin tahu tersebut, saya mulai browsing.

Berbekal pengetahuan dari internet, oven tua milik mama, dan tentu saja rasa penasaran, saya memberanikan diri untuk membuat ayam panggang ini. Berangkatlah saya ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan, sebagai berikut: 1 ekor ayam dan 300 gram kentang siomay (berapa banyak kentang yang digunakan tergantung selera).

Sementara bumbu yang saya gunakan adalah: bawang putih, bawang merah, daun salam, daun rosemary, garam, lada hitam, minyak zaitun (olive oil), butter, dan satu buah lemon.

Cara membuat:

1. Oven saya panaskan terlebih dahulu, dan saya atur ke suhu yang paling tinggi.

2. Kentang saya cuci bersama kulitnya dengan air bersih dan kemudian ditiriskan. Lalu kentang saya letakkan di dalam loyang (anda dapat menggunakan wadah anti panas lainnya seperti keramik atau kaca, tetapi pastikan terlebih dahulu bahwa perangkat tersebut dapat digunakan untuk oven).

Lalu kentang saya siram dengan minyak zaitun, saya taburi garam dan lada hitam secukupnya. kemudian saya taburkan bawang putih yang sudah dicacah halus, dan saya aduk sampai seluruh bagian kentang terselimuti oleh bahan-bahan tadi. Setelah itu pada kentang, saya meletakkan potongan-potongan butter (kurang lebih satu sendok makan), bawang merah utuh (tanpa dikupas), dua lembar daun salam, dan 3 tangkai daun rosemary.

3. Satu ekor ayam utuh saya keringkan bagian luarnya dengan menggunakan tissue. Lalu dengan menggunakan jari, saya pisahkan bagian kulit dengan daging sampai ke bagian paha ayam, setelah itu saya selipkan potongan-potongan kecil butter, dan sedikit daun rosemary. Kemudian saya oleskan minyak zaitun di bagian luar ayam, lalu saya beri garam dan lada hitam merata ke seluruh permukaan ayam.

Di bagian dalam juga saya taburkan garam dan lada hitam secukupnya, lalu setengah sendok makan butter, selembar daun salam, dan setangkai daun rosemary. Kemudian saya letakkan ayam tersebut diatas kentang yang ada di dalam loyang, saya taburi dengan perasan jus dari setengah buah lemon dan dipanggang di oven selama 45 menit.

4. Setelah 45 menit, loyang saya keluarkan. Lalu ayam saya diamkan terlebih dahulu dalam suhu ruangan selama kurang lebih 10 menit sebelum dipotong. Hal ini saya lakukan agar daging ayam tetap empuk dan juicy, karena apabila daging ayam langsung dipotong ketika masih panas maka juice-nya akan mengalir keluar, dan menyebabkan daging ayam terasa kering dan agak keras. Ini juga berlaku pada daging lainnya, paling tidak itu yang dikatakan oleh para ahli masak dan chef-chef ternama, saya hanya mengikuti saja hehehehe..

5. Hasilnya…walaupun bagian kulit dari ayam tidak kering merata, tapi dari segi rasa lumayan untuk percobaan pertama hehehe. Sisa2 minyak atau cairan yg di dalam loyang saya gunakan sebagai saus untuk si ayam panggang ini.

Demikian kira2 pengalaman saya membuat Roast Chicken, ternyata tidak rumit dan hasilnya juga cukup memuaskan (paling tidak buat saya sendiri =p). Mungkin anda bisa mencoba di rumah masing2, atau mungkin juga anda lebih tertarik makan di YUB, apapun pilihan anda yang terpenting adalah…jangan lupa ajak-ajak saya untuk ikutan makan 😉

Cheers

February 4, 2011 / leonard boby

Hi everyone

My name is Boby, i’m a musician and a graphic designer and this is the first time i do blog, ever! (from the way you write..that’s so obvious boby)

Ever since i was a kid, i’ve always been very passionate about food, not just eating the whole lot of them..but also curious about how to prepare and cook them, how one ingredient complements others…and so on. My mom always said that every time i was asked “what do you want to be when you grow up?” while other kids answered “doctors, pilots, policemen, etc.”, i’d always answered “i want to own a restaurant”…and i was 4 back then. She’d probably think at that time what a weird kid she has…(some things never change i guess =p).

In order to reach my dream on owning a restaurant, as a kid i’ve had always made mess in mom’s kitchen. From a simple omelette to complicated food like fried rice (believe me…fried rice was quite complicated for me, probably still is =p), sometimes it turned out okay…but most of the time it was just a mess.

Whatever the result, i found enjoyment in cooking and i remember to always watched this TV show “Wok With Yan” after school (i think that was the only TV show about cooking in Indonesian local TV back then, CMIIW), kinda disappointed when the show ended. And now thank God fer the internet! bless them who have invented it, there are billions of videos about cooking lessons there..so people like me can easily learn from those videos. Some of them are very simple and easy, a pan seared salmon dish for instance, while others are quite difficult and complicated. But to me..all of them are so much fun!

From those nice videos on the internet, and TV shows like “Hell’s Kitchen”, “Surreal Gourmet”, “World Cafe Asia” -to name a few- i’ve inspired to cook more and more. After a while, not only that i concern about how the food tastes but the presentation as well, because all of those great chefs out there -in different languages- said that “Presentation is very important!”.

Then i began to post the cooking result photos on my facebook page. Surprisingly i got quite a lot positive comments from my friends, and one of them suggest that i have my own blog to put those photos and tell the story of my cooking experiences.

So..although i’m no chef, just a guy with a passion for cooking..here i am, and yes..i do believe that everyone can cook.

Cheers,

Boby