Skip to content
February 8, 2011 / leonard boby

The World’s Greatest Chefs

Kata ‘chefdalam kamus Wikipedia berasal dari istilah dalam bahasa Perancis chef de cuisine yang berarti kitchen director atau org yang mengepalai dapur. Seorang chef mengatur segala sesuatu yang terjadi di dapur. Dari penentuan menu, kreasi masakan, pemilihan bahan-bahan, persiapan memasak, hingga hasil akhir masakan dengan standart yang tinggi.

Biasanya chef mempunyai beberapa orang anak buah, yang ditempatkan di station-station khusus sesuai dengan keahlian masing-masing, ada station yang khusus menangani daging, khusus menangani ikan, khusus membuat makanan penutup (dessert), khusus membuat saus, dan sebagainya. Semua keahlian spesifik yang masing-masing dimiliki oleh anak buahnya harus bisa dilakukan oleh seorang chef, dan tentunya lebih baik.

Seperti halnya seorang Conductor pada sebuah orkestra, chef mengorganisir dan memadukan semua keahlian anak buahnya menjadi suatu komposisi masakan yang bercita rasa tinggi. Dalam seni kuliner -yang acuannya dunia barat- ini adalah tingkatan tertinggi yang bisa diraih seseorang. Menurut saya untuk menjadi seorang chef tidak hanya dibutuhkan kerja keras, tapi yang terpenting disini adalah cinta dan dedikasi tinggi akan seni kuliner, mungkin itu kenapa tidak banyak orang mencapai tahap ini.

Melihat sekilas pada definisi dan tugas-tugas chef, mengingatkan saya pada chef-chef hebat yang kita kenal dekat, yaitu…para ibu kita.
Dalam hal mengelola dapur, menurut saya seorang ibu memiliki semua atribut yang dimiliki oleh chef kelas atas. Dari kemampuan berbelanja memilih bahan-bahan makanan terbaik dengan budget relatif terbatas, pengaturan menu yang baik, sampai terhidangnya makanan untuk seluruh anggota keluarganya. Semua hal tersebut dilakukan para ibu dengan penuh cinta, pengorbanan, dan terlebih lagi..tanpa pamrih.

Berbeda dengan chef profesional, tidak ada hari libur untuk para ibu. Di keluarganya masing-masing, mereka melakukan semua yang dilakukan chef, 365 hari tiap tahunnya. Dalam hal standart, setiap ibu yang memasak menetapkan standart bagaimana makanan semestinya ‘berasa’ di palet lidah kita, dan kemudian terekam oleh otak kita masing-masing. Standart ini memang berbeda-beda di tiap orang, tetapi standart inilah yang terus melekat pada diri kita.

Saya ingat suatu hari mama datang ke Jakarta, saya minta mama saya untuk menuliskan resep macaroni schotel yang biasa ia buat, karena menurut saya..belum ada yang bisa menandingi macaroni schotel buatannya. Lalu beliau menuliskanlah resepnya. Ketika mama pulang ke Purwokerto, saya mencoba membuat si macaroni schotel juara ini. Dan hasilnya “Wah! boleh juga nih!”, bahkan beberapa teman yang mencoba juga mengakui bahwa macaroni buatan saya enak. Saya sempet berbesar hati…”Hahaha akhirnya bisa nandingin macaroni schotel mama!”.

Beberapa waktu kemudian giliran saya pulang ke Purwokerto, dan saya minta mama membuatkan macaroni schotel. Saya langsung menyantapnya ketika masih hangat, suapan pertama tetap saja membuat saya tercengang..karena tadinya saya pikir macaroni yang saya buat sudah bisa menyamai rasanya, tapi kok ternyata masih jauh..tidak mendekati sama sekali! Padahal saya sudah mengikuti semua takaran, semua bahan, semua cara yang mama tulis tapi kenapa rasanya gak bisa seenak itu? Apa yah penyebabnya?

Hmmm…ini mesti karena jam terbang, mama sudah berulang kali bikin macaroni schotel sementara saya baru pertama kali. Lagian, beliau memang ‘chef” di dapur keluarga, hasil masakannya selalu memuaskan (paling tidak menurut saya) jadi ya memang wajar kalo masakan buatannya lebih enak dari buatan saya. Tapi kan semua job desc chef tersebut dia lakukan sendiri tanpa anak buah yang mendampingi, ditambah lagi dilakukannya di sela-sela mencuci baju, membersihkan rumah, mengantar anak-anaknya ke sekolah, belanja ke pasar, dan seterusnya..dan seterusnya.

Pertanyaan kembali mengisi benak saya, “kok bisa yah mama melakukan semua itu?”, “kekuatan super dari mana yah bisa kayak gitu?”. Yang saya tau jelas, mama melakukan semua itu didasari cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, mungkin memang itu sumber kekuatan mama. Saya kembali termenung, sungguh luar biasa menjadi seorang ibu, tugas-tugas berat chef dilakukan simultan dengan pekerjaan rumah tangga lainnya yang sama atau bahkan lebih berat. Bagi saya, dan saya yakin banyak orang yang sependapat, para ibu adalah The World’s Greatest Chefs.

Love you mom

Advertisements

3 Comments

Leave a Comment
  1. Miranda / Feb 9 2011 10:28 pm

    Makanyaaaa…. kalo mama masak tuh di makan… kalo lagi nggak enak, pasti dia lagi ada pikiran tuh… 🙂

  2. NitaHair / Feb 17 2011 10:00 am

    Wuaaaaa… semangat Boby.. bisa mungkin masak sambil maen gitar di panggung :))
    I love my mom too..

  3. Shanty Bachmid (@Shantynih) / Aug 20 2011 10:29 am

    hey Boe…baca ini sumpeeeh jadi kangen dimasakin sama mamaku yang sudah beristirahat tenang di surga….memang ngga bisa bohong…masakan mama sendiri is the best!!! nicely put, Boe…cheers…

    Shantz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: